Zakat, Solusi Problematika Ummat
Refleksi: Lembaga dan sistem pengelolaan zakat sangat sederhana, terkesan ketinggalan zaman sehingga pengelolaan zakat sangat tergantung pada kebaikan hati si pengelola. Sedangkan mental bangsa kita sudah terkenal bobrok, bagaimana zakat akan dijadikan andalan membangun umat? Salah-salah menjadi alat pemerasan seperti yang dikatakan Ny. Muskitawati! Karena pendidikan mental minta-minta telah terbangun kokoh. Lihat saja di jalan-jalan panitia mesjid minta-minta di jalanan. Di Minahasa jika anda mengendari mobil dari kota ke daerah pedalaman juga akan anda temui peminta-minta untuk membangun gereja. Bangsa yang beragama tetapi memalukan, Allah nya miskin. Di Bali tidak ada orang Hindu minta-minta di jalanan minta sedekah untuk puranya. Orang Islam dan Kristen harus belajar dari orang Hindu.
Zakat, Solusi Problematika Ummat
Jumat, 29 September 2006
Oleh: Kasturi*)
Dalam buku World in Figure 2003 yang diterbitkan oleh The Economist, dipaparkan tentang Indonesia sebagai negara yang luar biasa, negeri terluas nomor 15 di dunia ini, ternyata dikenal sebagai pengekspor coklat dengan peringkat nomor 3 di dunia, penghasil sawit terbesar ke 2, dan beragam hasil perkebunan lainnya, dari penghasilan tambang, ternyata Indonesia menghasilkan emas ke 8 di dunia, negeri ini menghasilkan sungguh banyak bauksit, bahan bakar minyak, batubara, marmer, nikel dan kandungan mineral lainnya.
Luar biasa…, demikianlah agaknya yang bisa kita ucapkan untuk menunjukkan potensi yang ada di Indonesia, negeri kaya raya. Dan keluarbiasaannya ternyata tidak hanya karena potensi yang dimilikinya itu saja, paradoks, itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan situasi yang terjadi, dinegeri yang kaya raya ini, fakta yang amat jelas memperlihatkan kondisi terkini tentang kemiskinan dengan segala ancamannya menghantui anak negeri.Di buku yang sama di beberkan tentang beban hutang luar negeri kita ternyata berada diperingkat 6 didunia, angka korupsi menempatkan Indonesia di posisi ke 3 diantara negara di dunia, penduduk miskinnya sebesar 26 % dan pengangguran terbuka berada di angka 10 juta. Bukankah ini adalah hal yang sangat luar biasa, pernahkah kita membayangkan bahwa kita terlahir dinegeri yang kaya raya, tetapi inilah fakta yang sedang terjadi.
Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh dua lembaga besar, Ford Foundation bekerja sama dengan Universitas Syarif Hidayatullah ( UIN ) Jakarta dan PIRAC, memperlihatkan bahwa potensi zakat yang ada di Indonesia sangat luar biasa besarnya. Dan ketika dana yang sungguh luar biasa besarnya ini terkelola dengan baik, kita akan melihat bahwa ummat ini akan kembali berbondong-bondong memasuki zaman keemasannya.
Sementara Lembaga PIRAC ( Public Interest Research and Advocacy Center ) menyebut angka 20 Triliun potensi zakat profesi dalam 1 tahun. Untuk itu butuh kesungguhan setiap orang untuk membangunkan potensi “raksasa tidur “ ini. Dan ini adalah besaran dana yang sangat luar biasa, pertanyaanya adalah bagaimana ummat Islam menyikapi potensi yang ada sebesar itu, apakah kemudian kita hanya membiarkan angka – angka itu diam membisu diatas kertas selamanya, atau ummat Islam melakukan action untuk menjemput kegemilangannya dengan membangkitkan potensi yang ada itu. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh ummat Islam dengan dana sebesar itu, sungguh persoalan besar dengan segala kemiskinan dan akibat kemiskinan itu, akan mampu diselesaikan dengan pengelolaan yang baik terhadap dana Zakat, infaq dan shadaqah yang sebesar itu. Ternyata kita harus banyak belajar dari kesuksesan negara tetangga, Singapura dan Malaysia yang telah memperlihatkan keinginan dan kesungguhan mereka, dalam menggali dan memfaatkan secara optimal potensi zakat yang ada disana.
Sejarah juga telah mencatat kecemerlangan ummat Islam dimasa lalu, ambil saja sebuah sejarah kegemilangan Islam di bawah kekhalifaan sang mujahid yang sangat fenomenal dalam sejarah, yaitu Umar bin Abdul Aziz, ketika Amil-amil zakatnya turun ke lapangan untuk menyalurkan zakatnya hingga ke wilayah Afrika, hampir-hampir mereka tidak menemukan lagi orang yang bersedia menerima zakat. Lalu muncul pertanyaan, apakah ketika itu, sama sekali tidak ada lagi orang yang berhak menerima zakat? Sesungguhnya tidak juga demikian, hanya saja ummat Islam dimasa itu, telah sampai pada posisi yang ideal sebagai ummat yang rahmatan lil Alamin.
Kehidupan sebagai makhluk mulia yang sosial yang utuh, telah mengejawantah dalam kehidupan mereka, dimana para orang kaya sangat sadar akan kewajiban mereka menunaikan kewajiban mereka dengan segala kekayaan yang mereka miliki, dan mereka dengan segala ketulusan hati menginfaqkan harta mereka di jalan Allah, disisi lain, kaum miskin tidak rela kehormatan diri mereka diinjak-injak dengan menjadi peminta-minta dimana-mana. Inilah satu kondisi ummat yang ideal, dimana kekayaan bukan menjadi tujuan dari kehidupan manusia, namun hanya menjadi jalan menuju sbuah kebahagian abdi disisi Alloh SWT.
Sesungguhnya kita tidak hanya menjadikan kisah kegemilangan kekkhalifaan Umar sebagai satu-satunya model kejayaan ummat, tetapi di bagian lain dalam sejarah ummat ini sungguh ternyata banyak mereka yang telah menorehkan sejarah panjangnya kegemilangan mereka, salah satu yang mereka lakukan ternyata dengan menegakkan dengan sungguh-sungguh syariat zakat di kehidupan mereka.
Dengan segala kondisi kemiskinan yang sedang menimpa anak negeri yang merintih dalam keputusasaan ini, apalagi di berbagai media elektronik, dan media cetak kita mendengar kekerasan di rumah tangga kaum miskin terjadi, angka kejahatan semakin meningkat, maka boleh jadi ini adalah bagian dari multi efek dari kemiskinan yang di khawatirkan oleh Syaidina Ali RA. Beliau pernah berujar “ kalau saja kemiskinan berwujud manusia, maka akan aku perangi sekarang “. Artinya efek kemiskinan sudah dipahami sejak lama dalam konsep islam. Bahkan Rasulullah yang agung dalam haditsnya mengatakan, bahwa kefakiran itu sangat dekat mengantarkan seseorang kepada kekafiran.
Karena itu, saatnyalah zakat kembali diangkat untuk kemudiaan dijadikan sebagai jembatan emas yang menghubungkan antara dua kutub yang berbeda, yang menjadi jembatan antara yang kaya dengan kaum miskin, dengan menunaikan kewajiban berzakat sebagai muslim yang sejati, Saatnya ummat Islam bersatu dengan menunaikan zakat dengan baik, maka sebentar lagi akan hadir Rumah Sakit gratis buat para mustahik, akan muncul wadah pengembangan ekonomi yang membantu mengubah mustahik menjadi muzakki, yang mengubah si lemah menjadi kuat, sehingga siap pula membantu saudaranya yang lain., dan menyelamatkan orang-orang yang putus asa menjadi yakin akan pertolongan Allah SwT.
Terakhir, semoga saja dengan kehadiran institusi pengelola zakat, baik Badan Amil Zakat maupun Lembaga Amil Zakat ( LAZ ) semakin membuat ummat Islam semakin yakin akan kembalinya kegemilangan islam, sehingga seperti ungkapan Abu Syauqi dalam pengantar buku Manusia Muslim Abad 21 karangan Anis Matta, “ Biarkan mereka terpesona “ dengan kerja-kerja ini.*** *)
Kasturi, Branch Manager Rumah Zakat Indonesia Batam

0 Comments:
Post a Comment
<< Home